Berawal dari obrolan malam tahun baru 2019 ini bersama
teman teman Ikada Purwokerto.
Waktu itu kita memang berencana untuk menghabiskan malam
tahun baru bersama di Bukit Tranggulasih di Purwokerto.
Malam pun semakin dingin namun obrolan semakin hangat.
'Eh next, naik gunung yuk?' Ucap salah seorang dari kami.
'Ayuayuayukkkkk' jawab kami serempak.
Akhirnya, kita membuat short-term
plan dan long-term plan. Awalnya,
dalam waktu dekat ini, kami berniat untuk menjelajahi dataran tinggi Dieng dan
mendaki ke Gunung Prau karena tidak terlalu jauh dan tidak terlalu tinggi. Tapi,
karena beberapa hal akhirnya pendakian ke Prau dibatalkan, kalau tidak salah sih karena ada something wrong happen disana. Akhirnya, rencana terpaksa kami
tunda. Tak berharap bisa mewujudkan rencana yang telah dibuat sebelumnya karena
kesibukan kami yang berbeda-beda dan sudah bersama-sama berada di zona kritis;
zona skripsi. Akhirnya, hampir terlupakan untuk pergi melakukan pendakian ke
Prau.
Tiba-tiba ketika kami sedang berbincang asyik, tercetuslah
rencana untuk mendaki ke Gunung Slamet saja dengan pertimbangan jarak lebih
dekat.
“Kesampean gak ya
naik gunung?” ucapku dalam hati karena melihat situasi dan kondisi kami yang
memang sedang sibuk-sibuknya mengejar ijazah.
Sempat tertunda-tunda lagi karena beberapa hal: si aku yang
harus sidang skripsi, temanku wisuda, dan ada juga yg harus wawancara kerja.
Akhirnya, rencana kami mendaki pada tanggal 22 April tertunda. Lagi.
“Kesampean gak ya naik gunung?” ucapku dalam hati. Lagi.
Obrolan berlanjut ketika kami kembali berkumpul dirumahku
dan dilanjutkan lebih serius pada saat Bukber Ikada Purwokerto.
“Yaudah yuk abis lebaran aja”
Tadaaaa!!!!!!!!
Setelah sekian banyak hal yang membuat rencana kami mendaki
tertunda, akhirnya ini terjadi juga!
Hatiku berdegup kencang sambil berpikir “aku serius nih mau naik gunung?”.
Akhirnya, aku mencoba untuk meminta izin kepada Ibu. Awalnya,
ibu kaget setelah mendengar kalau aku akan mendaki ke Gunung Slamet bersama
teman-teman pondokku.
“Serius, Kak?”
Akupun mengangguk dengan hati sebenarnya belum teguh
pendirian kalau aku akan mendaki.
“Berkelanalah kau selama masih muda, masih sehat! Carilah
pengalaman, ilmu, teman yg banyak. Tapi ingat, jaga attitude mu” Ibu bicara kepadaku.
Dan untuk pertama kalinya aku meninggalkan Ibu ke Gunung.
Sebelum pendakian, satu minggu sebelumnya, aku berlatih
fisik dan belajar beberapa pengetahuan mendasar yang harus aku tahu sebelum mendaki.
Selama latihan fisik berlangsung, aku sering naik-turun tangga rumah sambil membawa
carrier berisi air di punggung, sampe-sampe diketawain orang rumah karna
terlihat lucu. Hmmmmm kalau dipikir-pikir memang lucu juga sih. Tapi itu salah satu usaha aku untuk memberi tahu jika aku memang
serius mau mendaki gunung dan ready for
reaching the top of the mount.
20 Juni 2019 pukul 00.40, aku dan Deasty (salah satu teman yang
akan bersama-sama mendaki ke Slamet) berangkat ke Purwokerto naik kereta. Tidak
sabar untuk cepat mendaki karena ini adalah pendakian pertamaku.
Malam harinya, kita berkumpul bersama untuk membahas apa saja
yang akan kami lakukan disana dan checking
kesiapan masing-masing.
Pagi hari berikutnya, aku dan Ndes pergi ke pasar untuk
membeli logistik yg nantinya akan kita bawa pada saat pendakian.
Selesai. Semua sudah siap, dari perlengkapan pribadi maupun
perlengkapan kelompok.
Hp ku bergetar dan terlihat pesan muncul dari layar hp.
"Setengah 3 udah di Terminal ya, Re?"
"Okay!"
Jam 2 siang, aku berangkat menuju titik temu (Terminal
Bulupitu Purwokerto) bersama salah satu temanku. Kita menunggu bagaikan
menunggu jodoh yang tak kunjung datang:( Akhirnya, mereka datang ketika adzan
Ashar berkumandang.
Aku dan Deasty agak sedikit kesal karena kami yang tidak
terbiasa terlambat dan tidak suka kegiatan ngaret.
“Tau gini, kita masih bisa nerusin tidur siang ya, Re” ucap
Deasty dengan muka masamnya.
Dengan bermacam alasan mereka membela dirinya karna
keterlambatan ini hanya karna kesalahan teknis.
"OK, baiklah!"
Akhirnya, kita berangkat menuju Basecamp pendakian Gunung Slamet via Bambangan setelah sholat ashar
dan makan siang bersama.
Matahari pun hampir menutup matanya dan memberikan belaian
manis terhadap siapa saja yang mencoba membelainya, sampailah kami di Basecamp.
Matahari mulai tak memberikan sinar hangatnya, tapi kami
membuat malam tetap hangat.
Pagi menyapa dan kami bergegas untuk segera memulai
pendakian.
“Sarapan dulu karena pura-pura bahagia juga butuh tenaga”
ucap salah satu temanku.
Pendakian pun dimulai. Langkah demi langkah kami lalui
dengan pemandangan yang sangat indah. Senda gurau pun banyak terjadi di setiap
langkahnya dan membuat suasana pendakian tidak terlalu terasa lelahnya.
Pos demi pos kami lalui walaupun seringnya kami tertipu
dengan pos bayangan.
“Ini pos berapa?” tanyaku dengan pasang muka memelas.
“Ini mah masih pos bayangan, Re. Bentar lagi pos 1, kok. Semangat!”
Di setiap pos pemberhentian ternyata ada warung juga yang
berjualan makanan, minuman ataupun buah-buahan. Salah satu yang khas disana
adalah buah Semangka.
Si merah dan segar selalu berhasil menggugah semangat kami lagi.
Suasana terasa semakin dingin. Tak tersadarkan matahari
hampir menutup matanya kembali. Sampailah kami di tenda yang sudah dibuat oleh
dua teman kami yang melakukan pendakian lebih dahulu daripada kami yang masih
saja beristirahat di pos 3.
Sudah 4 pos lebih banyak tapi belum sampai di pos 5.
“Hey, disini hey”
Ternyata dua teman kami sudah membuat tenda di lahan yang
seadanya. Alhamdulillah akhirnya kami bisa beristirahat.
Malam pun menyapa kami dengan sifat dinginnya, tapi kami
berhasil membuat malam menjadi hangat lagi.
Si aku yang tertidur di tenda setelah lamanya pendakian dibangunkan
karena makanan sudah siap.
Disantapnya makanan lezat dengan lahap.
Setelah makan malam selesai, kami bergegas untuk beristirahat karna keesokan paginya kami harus melakukan summit attack yang mana pastinya membutuhkan energi dan tubuh yang fit.
Kami semua terlelap dalam dekapan malam yang hangat.
Tibatiba...
"Re, aku mau muntah. Bagi plastik kecil, Re!"
"Re, gamau! Aku keram"
Salah satu temanku, Deasty, menangis kesakitan pada malam itu. Keram dan mual yang dirasakannya.
Untung saja ada satu teman lelaki ku yang tertidur di depan tenda perempuan.
Dikasihkannya jaket dan dibuatkannya air hangat.
Situasi membaik dan kami pun terlelap kembali dalam dekapan malam.
"Ayo bangun ayo! Udah jam 2! Summit summit!"
Bergegaslah kami bersiap-siap untuk melakukan summit attack.
Malam itu hanya diterangi sinar rembulan dan sinar lampu yang kami bawa.
Malam pun terasa sangat dingin sampai-sampai aku memakai tiga rangkap baju ditambah jaket.
Pos demi pos lagi berhasil kami lewati. Sampailah kami di pos 9 dan beristirahat sejenak sambil mengobrol hangat.
Matahari mulai menampakkan sinarnya sedikit, membelai kami yang kedinginan, dan mencoba mendekap kami dengan penuh hangat.
"Yuk lanjutin summit, sedikit lagi sampai puncak"
Trek Gunung Slamet yang berkerikil membuat kami untuk selalu berhati-hati dalam berpijak.
Jatuh bangun. Tertatih-tatih untuk bisa menaklukan si 3428 mdpl.
Matahari semakin menampakkan sinarnya dan membuat perjuangan kami semakin hangat.
Sampailah kami di Puncak Gunung Slamet 3428 mdpl!
Haru sekali rasanya. Tidak menyangka kalau aku bisa sampai di puncak Gunung Slamet.
So, for those who ask me "Lu serius mau naik Slamet?" So, here I am with my best teammate ever (Deasty, Hani, Elma, Amar, Robi, Alfiyan, Iqbal, Deni)!
Beruntungnya aku ditemani oleh teman-teman yang selalu meyakinkanku, menyemangatiku, membantuku untuk bisa sampai ke puncak. Kalian hebat! Suntikan energi kalian kepadaku hebat!
Walaupun kami merasa belum puas untuk menikmati keindahan Tuhan, akhirnya kami harus bergegas turun menuju ke tenda kami menginap.
Naik butuh perjuangan. Turun butuh perjuangan juga. Malahan lebih ekstra.
Sampailah kami di pos 9.
Aku merasa semakin lemah. Pusing, lemah, lesu yang aku rasakan saat itu. Rasanya, inginku terjatuh tapi aku tidak mau membuat teman-temanku panik dan repot hanya karna aku yang lemah ini.
"Tahan, Re. Tahan" aku bergumam dalam hati.
"Des, aku pusing banget, gakuat des pengen muntah. Butuh air des" keluhku pada Deasty.
Pada saat itu, persediaan air habis.
"Eh yaudah atuh, kamu turun duluan aja, istirahat sampai tenda ya" suruhnya padaku.
"Nih tuntunin Rere atuh sampai tenda, sok kalian duluan" Deasty menyuruh kepada salah satu temanku agar menemaniku sampai ke tenda duluan.
Tertatih. Jalan pelan. Muka pucat.
"Itu mbak nya pucet amat" ucap salah satu pendaki yang sedang beristirahat pada saat melihatku sambil menawariku air.
Alhamdulillah. Lumayan satu teguk.
Berjalan menyelusuri trek yang penuh pasir dan kerikil membuat energiku semakin terkuras dan terasa semakin lemah. Beberapa kali hampir terjatuh, tapi temanku berhasil menahanku agar aku tidak terjatuh. Temanku yang satu ini hebat.
"Masih kuat, Re?" Tanyanya padaku.
Aku menjawab hanya dengan deheman saja.
"Berhenti dulu atuh sok minum dulu"
"Nggak, gausah. Aku cuma pengen cepet nyampe tenda. Mau tidur" pintaku padanya.
"Nanti kalo udah sampe tenda, jangan tidur langsung, makan dulu, minum obat, baru tidur, ya?"
Aku, si keras kepala, menghentak menolak sarannya.
"Gamau, aku cuma mau tidur!"
"Eh gaboleh gitu, Re. Nanti malah makin parah kamu"
Aku tetap dengan keras kepalaku.
Jalanan mulai landai, tapi aku tetap terjatuh.
"Ah kamu, dilepas dikit, jatuh juga" ledeknya padaku.
"Hehehehe"
Sepanjang jalan, mengobrol.
Katanya, kalau orang lagi mengalami situasi sepertiku, tidak boleh berdiam diri. Harus selalu diajak ngobrol, takutnya kalau didiemin, tahu-tahu dia sedang tidak sadar.
Pantas saja, aku sepanjang jalan diajak mengobrol terus walaupun terkadang aku tidak merespon apa yang dia bicarakan. Yang aku rasakan saat itu, mau jawab atau respon obrolannya saja rasanya lemas sekali. Hanya ingin diam saja.
Ketika aku terdiam.
"Re, Rere, masih kuat ga" dia menatapku dengan penuh harap. Berharap aku masih kuat untuk sampai ke tenda.
Sesekali dia menawariku minum, tapi aku menolaknya.
Sampai akhirnya perjalanan tidak terasa. Sampailah kami di tenda.
Aku langsung masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Akhirnya, nyamannya tenda membuatku membuat mimpi di dalamnya. Pulas dan nyenyak sekali rasanya.
Terbangun dari tidurku yang lelap, ternyata si perut ini tak bisa aku ajak kompromi.
Akhirnya dibuatkanlah wc dadakan denhan lubang galian untuk buang air besar oleh salah satu teman laki-lakiku.
Dilahan yang seadanya, berjongkok rasanya kayak mau tersurung kedepan karna tanah yang tidak terlalu datar. Bersebelahan dengan Deasty yang juga merasakan hal yang sama denganku.
Diputarnya lagu cukup keras agar bunyi yang kami hasilkan tidak terlalu terdengar ke arah temanku.
Akhirnya, kami pun lega. Perut kami terasa enak kembali.
Suasana semakin dingin, bukan karena sifatnya yang menjadi dingin, tapi karena matahari sebentar lagi akan pergi meninggalkan kami yang kelelahan.
Malam hari itu tidurku tidak pulas.
Banyak terdengar suara-suara binatang mulai dari jam 12 malam.
Aku mencoba untuk menghiraukan itu semua, tapi tetap tidurku tidak pulas.
Bangun. Tidur. Bangun. Tidur.
Tiba-tiba...
Kurang lebih sekitar jam 4 pagi. Ada sesuatu menyerbu tenda kami. Kami kira itu babi, tapi ternyata katanya itu adalah sigung. Disemprotkannya bau kentut sigung yang membuat kami ingin muntah.
Dua teman lelakiku keluar untuk mengecek dan mengusir binatang itu.
Akhirnya. Kami aman kembali.
Pagi harinya, kami bergegas untuk pulang menuju Basecamp.
Perjalanan aku tempuh dengan sisa energi yang aku punya.
Sempat tertinggal jauh dengan dua temanku didepan dan meninggalkan jauh 5 temanku dibelakang.
Kami mengobrol hal-hal ringan sampai akhirnya perjalan kembali tidak terasa.
Tiba-tiba...
Terlihat gardu Selamat Datang tanda kalau kami sudah hampir sampai di Basecamp.
Akhirnya...
Nasi padang, aku datang!
Perjalanan kali ini mengajarkanku arti bertahan. Dalam hidup, jatuh bangun adalah sebuah keharusan. Hidup tidak akan selalu seperti apa yang direncanakan. Ketika rencana tidak sesuai, kita sedang terjatuh, kita harus selalu siap untuk bangkit. Mengingat bahwa hidup adalah sebuah perjalanan berjuang.
Perjalanan kali ini juga mengajarkanku untuk selalu berjuang demi mimpiku. Walaupun jalan mengejar mimpi tidaklah selalu landai dan mulus, tapi kita harus tahu celah dan jalan mana yang harus kita pijaki. Tetap semangat untuk menggapai mimpi.
Perjalanan kali ini juga mengajarkanku ketika orang-orang di sekeliling mempertanyakan kesungguhan dan keseriusanmu akan sesuatu, kita harus selalu berusaha dan memberikan aksi untuk membuktikan bahwa kita memang sungguh-sungguh untuk mengejar itu.
Perjalanan kali ini juga mengajarkanku bahwa hidup adalah tentang tolong-menolong sesama. Ketika ada yang terjatuh atau mungkin hampir menyerah akan sesuatu, kita harus menyemangati dan meyakininya bahwa kita semua bisa kok melalui ini.
Perjalanan yang sungguh hebat karna bersama orang-orang hebat.
Terimakasih teman-teman terbaik. Am waiting for another new journey, new experience!
Kalian hebat!
(Tulisan ini saya dedikasikan untuk Deasty, Hani, Elma, Amar, Robi, Alfiyan, Iqbal, Deni)
Komentar
Posting Komentar