Langsung ke konten utama

Anak-anak Kecil Depan Masjid



Waktu maghrib pun tiba...
Bergegaslah gue mencari mesjid di salah stasiun besar di Jakarta. Diambillah air wudhu lalu sholat berjamaah.
Setelah gue selesai sholat maghrib, gue keluar dan liat kalo sendal didepan masjid udah pada rapih. Ternyata, yang rapihin sendal itu adalah anak-anak kecil disitu (kisaran umur 5 atau 6 tahunan deh kayaknya). Seems like mereka adalah anak-anak yang educated-less. Mereka nongkrong aja didepan masjid dengan baju kotor kebesaran, uncombed hair, cengengesan, engga pada sholat.
Setelah itu gue mau ambil sendal gue tuh, dan pas gua ambil, ada suara anak kecil bilang “Mba, minta uangnya mba! Kan udah dijagain sendalnya”.
Hmmmm. Personally gue sedih liatnya karena mereka masih terlalu kecil untuk melakukan hal macam gitu. They must be in their happiness­. The fact is that mereka malah harus nyari uang dengan cara kek gitu. Bisa jadi itupun karena suruhan orang-orang terdahulunya mereka (mungkin sih. Suud nya gue aja kaliya ini mah).
Sisi lain, gue kesel. Pertama, gue kesel, karena emak bapaknya pada kemana gitu ya, ampe anaknya terlantar kek gitu. Mending kalo ortunya gabisa ngempanin, ya gausah diadain merekaya. Kedua, gue kesel dengan cara mereka minta duit. Mereka minta duit dengan agak maksa ke gue dan orang-orang yang juga dirapihin sendalnya ama mereka. Nah pas banget gue kesana, gue gabawa tas. Cuma bawa diri dan mukena doang. Dan mereka look kesel karena gue ga ngasih mereka duit. Ya gimana lagi gitu ya. Emang gabawa uang dan pas emang gua sama adek gua juga gabawa uang sama sekali (tas dititip mama di ruang tunggu stasiun). Ya akhirnya gua minta maap aja ke mereka karena gabisa ngasih duit.
Abis itu, gua liat abang-abang yang ngurus mesjidnya keluar dan bilang ke mereka “Hey, kalo beresin sendal, engga usah dimintain duit” terus mereka jawab “engga kok, saya ga mintain duit. Cuma ngejagain doang”. Makin sedih gue dan miris, karena mereka masih kecil udah pada bisa boong:(
Kesimpulan yang gue tarik dari kejadian ini adalah pendidikan itu emang awalnya dari rumah menurut gua. Jadi gimana didikan orang tua, bisa dilihat gimana si anaknya itu. Dan dewasa ini, menurut gue, sadar ga sadar, orang-orang tuh lebih mentingin pendidikan di sekolah formal nya aja. Anak-anak mereka dituntut biar jadi ranking 1 di sekolah, tapi masih dengan hasil menyontek. Padahal, pendidikan karakter juga itu perlu. Percuma pelajaran 100 semua nilainya, tapi tidak beretika anaknya. Pendidikan formal dan informalnya harus seimbang. Point kedua, pendidikan usia dini juga itu perlu banget. Menurut pepatah arab mah, belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu. Jadi apapun yang diajarin sejak kecil itu akan selalu teingat. Point ketiga, orang tua haruslah mencontohkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Karna anak-anak kecil itu ada masa mereka ngikutin apa yang orang-orang dewasa lakukan.
Mungkin segitu dulu, semoga bermanfaat:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sehat Adalah Hasil Dari Ketaatanmu

Ini semua berawal dari hasil diskusi sama temen aku; Auliya. Kita emang lagi sama-sama mengubah pola hidup yang lebih sehat. Awalnya emang udah sempet tahu sama dr. Zaidul Akbar, tapi belom ngikutin tips tips nya karna belom siap karna kek aneh-aneh banget tipsnya:( kayak bakalan engga suka gitu.  Akhirnya, terketuk hati buat belajar Jurus Sehat Rasulullah atau thibbunabawi yg dipake dr.Zaidul Akbar untuk menyembuhkan pasien-pasiennya. But anyway, siapa dr.Zaidul Akbar? Dan apasih JSR itu? dr. Zaidul Akbar adalah seorang dokter dan beliau juga aktif sebagai healthy influencer lewat instagram dan sosial media lainnya. Beliau suka banget ngajak kita semua untuk selalu menjaga kesehatan dengan pola makan yg dianjurkan oleh Rasulullah dengan menggunakan produk produknya Allah. Gacuma makanan alami yg dianjurkan, tapi juga minuman-minuman alami pun diajarkan dan dianjurkan oleh beliau sesuai dengan Al-Quran. Bagiku, menerapkan pola hidup sehat juga berarti meminimalisir sakit di...

Happy

Everybody wants to be happy.  People said that when you are happy, you are grateful. But for me myself, it’s not the formula for being happy. It’s not happiness that make us grateful. It’s gratefulness that makes us happy. In my opinion, people who have everything doesn’t mean they are happy, sometimes they want something else or they want something more of the same. And we all know people who have lots of misfortune but they are deeply happy. Why? Because they are grateful. So, I think, happy can’t be measured. Everybody has their opinions what happy is.  Generally, happy means expressing pleasure and so many things that can make us happy, right? For example, when you got something from your beloved one, when your parents give you money, you will feel happy, right? However, those are mean nothing if you do not have time. For example, when your parents give you some money for buying some clothes, but you do not have much time to go shopping, so you can not buy it....

KKN di Malaysia

Alhamdulillah di tahun ini gua mendapatkan kesempatan untuk mengikuti International Community Service (re: KKN) di Kuala Lumpur bersama Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia. Anyway, apa sih International Community Service? International Community Service itu salah satu kegiatan kampus gua in which setiap mahasiswa harus mengikutinya karna itu menjadi salah satu syarat kelulusan. Nah, di kampus gua ini ada 4 macam KKN; KKN Reguler, KKN Tematik, KKN Kebencanaan dan KKN Internasional. Nah, yang gua ikutin kali ini adalah KKN Internasional dengan jumlah peserta sebanyak 16 orang. Tahun ini kampus gua bermitra dengan PCIM Malaysia. Nah, terus kita tuh ngapain aja sih disana? Konsepnya adalah take and give. Jadi, kita bikin program untuk masyarakat disana dan dari PCIM sendiri membuat program untuk kita. For further information, yuk simak cerita 27 hari gua di Malaysia hehehe. But anyway, it will be very long writing, but I hope it will give you so much information. Fir...