Adalah aku perempuan yang terlahir di tanah sunda dan keluarga sunda. Ada sedikit
darah jawa, kata ibuku. Hidup sedari kecil di tanah sunda membuatku tenggelam di
dalam keindahan budaya sunda.
Mereka bilang, orang sunda itu bening-bening, orang sunda itu royal, orang
sunda itu gabisa ngomong “f”, orang sunda itu ramah-ramah, dan sebagainya. Hm, menurut
kalian benarkah seperti itu? Ya bagiku, aku tetap bangga terlahir sebagai
perempuan sunda.
Setelah 18 taun hidup di tanah
sunda, dan akhirnya aku harus tinggal di tanah jawa. Tak pernah terbersit sama
sekali di pikiranku. Tapi nyatanya, kini aku menjadi orang minoritas. Orang sunda
tinggal di jawa. Alasan ku tinggal disini, tak lain hanya untuk menyelesaikan
studiku. Dan di tulisanku kali ini, hanya ingin membagikan ceritaku pertama
kali tinggal di tanah jawa.
Kalo pake bahasa kerennya, namanya cultural
shock. Sungguh emang beneran kalo aku ngalamin yang namanya cultural shock. Ada beberapa hal yang aku alamin pas pertama kali tinggal di
jawa.
Hal pertama yang paling terlihat itu adalah makanan. Di jawa, makanannya
manis-manis dan ga terlalu terasa manis asim asam di setiap makanan nya, rada
gajelas gitu rasanya. Kalo di sunda itu rasanya tajam dan rata-rata makanannya
pedes-pedes. Dan untuk beberapa bulan pertama, aku bingung mau makan apa aja,
dan akhirnya keliling setiap tempat makan disini bersama teman-teman kosku yang
mayoritas juga bukan orang jawa.
Hal kedua adalah bahasa. Kalau bahasa pasti ya. Beda banget bahasanya. Yang
paling terasa itu ketika kita lagi beli nasi rames atau gorengan, dan yang jual
itu adalah nenek-nenek atau kakek-kakek yang udah usia lanjut dan gabisa
ngomong pake bahasa indonesia, dan akhirnya kita bingung mau ngomong pake
bahasa apa. Dan aku ngalamin hal itu. Dan akhirnya pake bahasa isyarat. Terimakasih,
karena tinggal disini, aku bisa bahasa isyarat wkwk.
Hal ketiga adalah lifestyle. Mereka
bilang, orang jawa itu irit-irit, dan nyatanya yang aku lihat emang kayak gitu.
Beda banget sama orang sunda yang katanya sih lebih royal dibanding orang jawa.
Dan kebetulan aku tinggal di kota Purwokerto yang dulu sih pas taun 2015 masih
sepi sama mall. Dan itu terasa banget, mau nyari sepatu atau baju aja susahnya
minta ampun. Mau makan-makanan yang biasa ada di mall aja belum ada waktu itu. Mau
nonton bioskop pun bukan 21, XXI, ataupun CGV dan semacamnya.
Hal keempat adalah suhu. Di Purwokerto itu panasnya melebihi Tasik. Panas banget.
Jadi harus ekstra penjagaan biar ga jadi item pas pindah kesini.
Pada akhirnya, mau tidak mau, karna tinggaal disini pun adalah pilihanku
sendiri, maka aku harus bertanggung jawab atas pilihanku. Berusaha bersabar dan
setiap kali pulang kerumah, seneng banget karna bisa belanja dan makan makanan
yang ga ada di Purwokerto.
Setelah dua tahun tinggal di kota ini, akhirnya akupun bisa berdamai dengan
keadaan disini. Dan sekarang Purwokerto udah lumayan cukup kumplit sih
dibanding dua tahun lalu pertama kali aku kesini.
Sebenernya ada stages cultural shock
nya itu sendiri loh temen-temen. Pertama adalah honeymoon period, dimana kita masih menikmati hal-hal baru dan
menarik itu. Kedua adalah cultural shock
nya itu sendiri. Ketiga adalah initial
adjusment, dimana kita udah lumayan bisa berdamai dengan hal-hal baru itu. Keempat
adalah mental isolation, dimana kita
masih merasa sendirian. Kelima adalah acceptance
and integration, dimana kita pada akhirnya bisa berdamai dengan hal-hal
baru itu.
Jadi buat temen-temen yang ngalamin hal sama kayak aku; cultural shock, dinikmatin ajalah
pokokmya karena cultural shock itu bakalan
ada dan terasa ketika kita berpindah dari budaya satu ke budaya lainnya.
Komentar
Posting Komentar